Laporan Mendalam: Pung Tak Pernah Mati
Layaknya virus, sub-kultur Punk dengan cepat mewabah ke berbagai negara. Kehadiran mereka yang semula dipandang miring menjadi terlalu besar untuk diabaikan. Semangat antikemapanan pun menggelora seiring dengan raungan distorsi gitar mereka dari atas panggung. Termasuk di Indonesia
Kamis sore ke-392 di seberang Istana Negara, Jakarta Pusat, beberapa petani berkebaya menumbukkan lesung ke alu. Tumbukan itu membentuk irama. Mikail Israfil alias Mike, vokalis band Marjinal, segera mengambil pengeras suara dan mengatur musik yang dimainkan kawan-kawannya. Bobby Firman Adam, teman satu band Mike, ada juga di sana.
Keduanya merespons irama ketukan lesung para petani Rembang, Jawa Tengah, dengan menyanyikan Ibuku Ibumu Ibumi Kita Semua. Lagu karya Marjinal.
Nyanyian berlanjut hingga beberapa lagu. Band punk rock asal Jakarta Selatan itu mewarnai Aksi Kamisan menagih janji Presiden Joko Widodo untuk menolak pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Kehidupan para petani dinilai terbelenggu dengan keberadaan pabrik semen yang dinilai merusak alam.
Di sana Mike dan Bobby tak sendiri. Beberapa komunitas punk ikut bersolidaritas saat puluhan petani menyemen kaki di depan Istana.
Di luar istana, solidaritas juga diwujudkan dengan cara lain. Beberapa band punk, skinhead, hardcore, merilis album kompilasi berjudul Kendeng Melawan. Kompilasi itu didedikasikan untuk perjuangan petani dan masyarakat yang dirugikan atas pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng.“Merasakan rasanya ditindas, merasakan penderitaan orang lain, minimal berbagi rasa, bersolidaritas.”
Mike menganggap aksi di Istana itu tak lain upaya menjadi diri sendiri.
“Merasakan rasanya ditindas, merasakan penderitaan orang lain, minimal berbagi rasa, bersolidaritas,” ujarnya, ketika ditemui di komunitas Taring Babi, tempatnya biasa berkumpul.
Bagi kebanyakan mereka yang menjalani hidup sebagai punk, musik memang bukan hanya soal ekspresi diri, tapi juga jadi senjata perlawanan dan kritik sosial pada sistem yang menurut mereka tak sesuai. Melalui lirik-liriknya, band punk mengkritisi pemerintah dan ketidakadilan di masyarakat. Juga membela mereka yang lemah.
"Dari awal memang teman-teman punk menggunakan media musik untuk menyampaikan pesan, menyampaikan ide, menjadikan proses belajar sama-sama tentang kondisi negeri," kata Bobby.
Bobby mengatakan, bagi Marjinal, semua hal di sekitar bisa menjadi inspirasi pembuatan lagu. Terutama ketika ada hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai punk. Misalnya masalah kesehatan, pendidikan, diskriminasi, hukum, ketidakadilan sosial, kekuasaan, dan kebobrokan sistem serta pemerintahan.Infografis: Timothy Loen | Naskah: Vetriciawizach Simbolon
Tema-tema seperti itu pula yang sering dijadikan Marjinal sebagai 'peluru' dalam berkarya.
Contohnya lagu Hukum Rimba. Lagu itu merupakan kritik Marjinal terhadap karut-marut penegakkan hukum di Indonesia yang katanya semestinya jadi panglima.
Lagu Hukum Rimba berbicara soal noktah hitam peradilan di Indonesia. Bagaimana hukum bisa dibeli mereka-mereka yang punya kekuasaan dan uang.
"Lagu Hukum Rimba. Cerita tentang hukum yang bisa dibeli dan hukum bukan lagi menjadi satu pintu terakhir untuk menentukan keadilan atau siapa yang bersalah. Orang bersalah bisa membeli hukum agar lolos dari apa yang diperbuat," ujar Bobby.
Bobby 'Marjinal'. Foto: Hesti Rika
Musikus punk lain, Rama Aditya, ketika ditemui di kesempatan terpisah mengatakan, hampir semua band punk memang menyuarakan kritik dan perlawanan lewat lagu.
Gitaris band The Sabotage ini mengatakan, pemerintah banyak jadi objek kritik dan isu-isu terkini juga jadi perhatian khusus dalam bermusik
"Sebagian ada yang mengkritik pemerintah, lalu ada isu-isu yang lagi hangat," kata pria yang kerap disapa Geboy ini.
Rama Aditya, gitaris band punk 'The Sabotage'. Foto:Andito Gilang Pratama
Suara kritis kaum punk membuat kelompok ini kerap dicap
berpolitik melalui cara mereka sendiri. Anarkis atau anarkisme adalah
teori politik yang bertujuan menciptakan suatu masyarakat yang di dalamnya
individu bebas berkumpul bersama. Sederajat.
Anarkisme melawan semua bentuk kendali hierarkis – baik oleh negara maupun
kapitalis—karena dinilai merugikan individu dan individualitas mereka.
Punk dengan anarkis dinilai punya kaitan langsung karena
band yang kerap jadi kiblat kaum punk, Sex Pistol, memberi karakter kuat
tentang ideologi tersebut pada lagu “Anarchy in the U.K.”
Banyak musisi punk mempelajari pesan dalam lagu yang dirilis 1976 itu.
Jon Savage dalam
buku England’s Dreaming: Anarchy, Sex Pistols, Punk Rock, and Beyond (1992)
menyebut punk adalah tentang pemuda, dengan pemberontakan dan kehidupan jalanan
sebagai elemen penting, di samping individualitas yang kental.
Namun Craig O’Hara dalam buku Philosophy of
Punk (1999) menyebut kesan individualitas itu lebih mengarah pada sikap
independen lewat prinsip yang selama ini dipegang punk: do it yourself (DIY)
atau kemandirian.
“Kami dalam komunitas punk
bisa membuat pertunjukan sendiri, mengorganisir demonstrasi, merilis rekaman
kami sendiri, menerbitkan buku dan zine, mengelola distribusi sendiri untuk
hal-hal yang kita produksi, buka toko kaset sendiri, mendistribusikan
literatur, mengampanyekan boikot, dan berpartisipasi aktif dalam aktivisme
sosial-politik. Kami mampu melakukan ini semua, bukan mereka (pengusaha,
pemerintah) dan kita bisa melakukannya dengan efektif. Apakah ada subkultur
lain yang mempunyai kekuatan aksi dan filosofi independen seperti ini?”
Dia menang undian dan mendapat kesempatan berjumpa Marky sebelum menggelar
konser di Jakarta pada 5 Desember 2017. Marky adalah satu-satunya personel
Ramones yang masih hidup.
Aksi band Marjinal di depan
gedung KPK, Rabu, 17 Februari 2016. Foto: Andry Novelino
Seperti
anarkisme, punk juga menolak hierarki yang terwadahi dalam suatu lembaga
tertentu. Mike berpendapat, ketika individu punk sudah ideologis maka dia akan
berbaur dengan masyarakat untuk memperjuangkan keadilan, bukan membentuk
kelompok sendiri.
“Bicara punk itu
bagaimana dia melakukan proses ‘bunuh diri kelas’ yang dengan sadar membawa
diri tanpa mengatasnamakan kelompoknya, tapi sebagai insan yang melebur dalam
sebuah perjuangan rakyat,” katanya.
Pria 42 tahun ini
menyebut pengelompokan merupakan perbuatan sistem kekuasaan. Tujuannya memecah
belah masyarakat agar tidak memiliki perasaan senasib dan kesamaan harapan.
Sistem seperti ini, menurutnya, perlu dibongkar.
Infografis: Timothy Loen |
Naskah: Vetriciawizach Simbolon
Selama
ini Marjinal kerap dilabeli sebagai band anarko punk. Band yang dirikan sejak
1996 itu pernah membuat lagu Anarki Bukan Barbar.
Namun
Mike menolak pelabelan itu.
Baginya,
tidak penting identitas sebagai seorang punk, anarkis, atau anarko punk.
Semangat yang dibawanya adalah katalisator yang mempertemukan setiap perjuangan
kemanusiaan.
"Punk
adalah katalisator. Apa yang dirasakan lalu dikontribusikan dalam barisan
rakyat untuk menjemput keadilan. Punk akan ada di situ," ujarnya.
Mike
mengatakan, semangat besar komunitas punk adalah memanusiakan manusia dan
menjadi bagian dari gerak perubahan. Menurutnya, setiap orang adalah pemilik
atas dirinya sendiri dengan segala pertanggungjawabannya.
Ia
menambahkan, musuh terbesar punk adalah dirinya sendiri. “Ada idiom di punk, be
your self. Maka musuh terbesar untuk menjadi diri sendiri adalah dirinya,
ketika dirinya ingin menjadi orang lain,” kata Mike.
Bagi
Mike, ketika individunya berbaur, punk akan abadi. Tak mati oleh kekuatan
apapun.
“Walaupun tubuhnya dipenjarakan, tapi jiwa dan pikirannya tetap adalah dirinya. Itu yang disebut dengan punk’s not dead,” tegasnya.
Lewat tengah malam, beberapa pemuda berkumpul di emperan
sebuah kafe bilangan Bulungan, Jakarta Selatan. Botol berisi anggur ginseng
digilir pada setiap orang yang duduk melingkar. Satu per satu mereka menenggak
minuman beralkohol yang dibeli dari lapak jamu tradisional itu.
"Sekadar menghangatkan badan," kata Leonardo Ichwan Redion
Mamahit, biasa dipanggil Onie Fukkguy sambil menyodorkan botol ke kawannya. Suhu
udara memang semakin dingin memasuki dini hari.
Onie mengambil ponsel dan memutar rekaman video konser
Ramones, band punk rock legendaris asal Amerika Serikat. Onie tak sabar bertemu
Marky Ramone, mantan penggebuk drum Ramones.
Onie
Fukkguy. Foto: Andito Gilang Pratama
Tak hanya mendengarkan Ramones, Onie juga berpenampilan layaknya seorang
punk. Rambutnya tercukur mohawk, gondrong hanya di bagian tengah kepala. Begitu
pula model potongan dua kawannya, dihias pirang di sejumput rambut.
Sekujur lengan Onie nyaris dipenuhi tato berlogo band punk. Jaket
dipenuhi emblem. Celana hitam ketat menyatu dengan sepatu warior. Biasanya
sepatu bot tak lepas dari kaki ketika Onie pentas bersama grup musiknya: The
Sabotage. Band yang digawangi Onie adalah salah satu band punk lawas di
Jakarta.
Perbincangan malam itu sehangat minuman yang ditenggak bergiliran.
Obrolan tak jauh seputar punk, dari mulai musiknya, komunitas, media massa,
hingga urusan politik, juga soal anarki.
Onie menilai punk dan anarki merupakan dua hal berbeda, tapi memiliki semangat
sama, yaitu kebebasan. Pria lajang 39 tahun ini menjelaskan, anarki membebaskan
setiap orang mengatur hidupnya sendiri di bawah kontrol dan tanggung jawab
masing-masing. Punk menjadi saluran ekspresi kebebasan melalui musik,
penampilan, dan pergerakan.
“Anarki berarti tanpa ada yang memerintah. Enggak ada yang berhak
mengatur diri gua, kecuali diri gua sendiri yang mengerti batasannya,” kata
pria yang pernah kuliah di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) itu.
Namun kebebasan itu sendiri, menurut Onie, masih tersandera sistem yang
dibuat negara untuk mengatur kehidupan politik, hukum, sosial, ekonomi
masyarakat. Dia menuangkan kekecewaan terhadap sistem melalui musik.
Salah satu lagu berjudul "No Peace Today, No Life Tomorrow"
yang dia ciptakan bersama The Sabotage bercerita soal perang terhadap
ketidakadilan.
"Indonesia memang sudah enggak ada perang (fisik), tapi perang di
sini lebih kepada injustice (ketidakadilan). Teman kami jualan tapi enggak
punya lapak karena sewa mahal, akhirnya turun ke jalan jualan sembarangan,
barangnya diambil petugas. Itu sistem, musuh kita," jelasnya.
Jelang pagi itu, Onie membatasi diri untuk tidak lagi meneguk anggur
meski isi botol belum habis. Dia mengontrol diri agar tidak berlebihan
mengonsumsi alkohol. Berkaca dari kawannya yang kini berhenti karena alasan
kesehatan.
Sementara Sidik alias Joy pendiri komunitas punk Brengsex
City mengakui, gerakan politik komunitas punk bakal ada. Yang dilakukan saat
ini memang belum pada tahap turun ke jalan.
“Kami mulai di lingkungan sekitar dulu, bicara riil soal
kerja-kerja nyata. Bukan enggak perlu turun ke jalan, suatu saat itu, pasti
kami tetap berontak. Tapi perbaiki dulu ekonomi,” ujar Joy.
Bersama sejumlah rekannya, Joy saat ini mengembangkan
ekonomi komunitas punk di kawasan Kemayoran Jakarta Pusat.
Studio rekaman, sablon kaos, desain grafis, fotografi,
hingga kursus bahasa Inggris mereka buka. Aktivitas itu perlahan membangun
kepercayaan masyarakat terhadap komunitas punk yang hidup di tengah pemukiman
padat penduduk.
Dia mengatakan, setiap pemberontakan harus ada solusi,
bukan hanya sekadar protes. Joy menilai perlu memperbaiki sikap setiap individu
sebelum melangkah pada hal-hal yang lebih jauh.
Infografis: Timothy Loen | Naskah: Vetriciawizach Simbolon
Etika mengerjakan serba sendiri atau Do it your self
(DIY) dianggap sebagai keniscayaan bagi komunitas punk. Mereka umumnya memilih
memproduksi segala hal sendiri dan mendistribusikannya melalui jejaring mereka
sebagai bentuk kebebasan dan perlawanan.
Salah satu etika DIY diterapkan di komunitas punk adalah
soal rekaman musik dan distribusi hasilnya. Komunitas Brengsek City
membuka ‘Brengsex City Home Record’ atau BCHR.
Joy bersama anggota band The Root membuka studio ini.
“Dari pada rekaman di luar mending kita sediakan sendiri, ikut
pertunjukan, dan didistribusikan sendiri,” ujar Joy.
Sebagian ruang di rumahnya pun diubah menjadi tempat rekaman. Meski tak
terlalu luas, tiap hari ada saja band punk yang datang untuk sekadar berlatih.
Nantinya, kata Joy, label rekaman ini akan dibuka bagi band punk lain di luar
komunitas.
Ia tahu betul rumitnya bertemu operator label rekaman di luar sana.
Belum lagi keterbatasan untuk mengatur waktu. Alasan itu yang membuat Joy tak
ingin band punk lainnya merasakan kesulitan seperti dirinya.
“Kami ingin juga kan punya karya, tapi jangan dipersulit ruang dan
waktu,” ucapnya.
Personel band punk Shaolin Temple yang juga penggagas BCHR, Muhammad
Haris mengatakan, usaha yang dirintis komunitas mereka umumnya berawal dari
lingkaran pertemanan. Menurut pria yang akrab disapa Proph ini, ruang pertemanan
yang menjadi sebuah komunitas ini kemudian menjadi peluang bisnis untuk
menghasilkan keuntungan.
“Justru yang mengajarkan kami bisa, ya dari komunitas. Semua dari
pertemanan, awalnya enggak kenal, ketemu di acara ngobrol bareng ternyata
nyambung. Mulai usaha,” katanya.
Usaha label rekaman itu termasuk salah satu yang ia rintis bersama Joy.
Meski memproduksi sendiri, Proph tak lantas anti dengan label besar. Sebab tak
menutup kemungkinan bandnya akan bekerja sama dengan mereka, asalkan lewat
sejumlah kesepakatan yang disetujui kedua pihak.
Ia melihat kecenderungan label besar selama ini hanya berorientasi
keuntungan. Hal itu yang dikhawatirkan akan berdampak pada hubungan pertemanan
yang sudah dijalin oleh teman sesama punk.
Menurut Proph, kunci untuk menjalankan usaha dari komunitas punk adalah
ikhlas dan kepercayaan. Selama hal itu dijaga, ia yakin tidak akan ada konflik
yang berarti.
Effi Juanita, vokalis band
punk Punktat yang membuka bisnis toko aksesori punk. Foto: Prima Gumilang
Sementara Effi
Juanita, vokalis band punk Punktat, punya alasan lain membuka bisnis toko
aksesori khusus punk yakni karena kebutuhan sehari-hari. Menurutnya,
sebagai orang tua tunggal, ia harus bisa memastikan kebutuhan anaknya bisa
terpenuhi.
"Pertama
bisnis. Waktu anak kelas 1 SD, kebutuhan meningkat," kata Effi.
Effi mengaku,
bisnis lapaknya bisa dibilang hanya modal dengkul. Saat itu teman yang punya
usaha sablon mencetak nama dan logo band, Punktat. Effi mendapat royalti dari
sablon tersebut berupa kaos yang sudah disablon.
Karena terdesak
kebutuhan ekonomi, kaos-kaos tersebut dijualnya setelah mendapat izin dari
personel Punktat yang lain.
Kini, selain
kaos, Effi juga menjual jaket dan celana khas punk yang penuh dengan embelem.
Di lapaknya di Effi juga menjual sabuk, gelang, sepatu bot dan aksesoris lain.
Ada yang dibelinya dari industri rumahan, ada juga yang dibuatnya sendiri.
"Ada juga
orang bikin, bawa jaket sendiri, atau nyicil beli spikenya dulu. Tergantung
budget-nya orang yang mau order," kata perempuan 45 tahun ini.
Mereka-mereka yang memilih jalan hidup punk tak selamanya
hidup di jalanan untuk mengamen atau menggelandang, seperti streotipe yang
sering ditempelkan pada mereka. Ada pula yang sibuk dengan pekerjaan dan
rutinitas kantoran.
Hanya saja, mereka enggan disebut sebagai bekas anak
punk. Nilai dan ideologi punk tetap dipraktikkan.
Misalnya saja Stafenus Hamonongan, seorang guru sekolah
dasar swasta di Jakarta Selatan, yang jadi anak punk sejak tahun 2000. Sejak
awal, Stef merasa punk “Gue banget”. Punk yang identik dengan perlawanan dan
pemberontakan dinilai sengat sesuai dengannya.
Sejak SMA, ia mulai berpenampilan ala punk seperti
bertato dan menindik telinga. Lulus SMA kegilaan Stef pada punk makin menggebu.
Ia juga sadar bahwa punk bukan cuma penampilan tapi pemikiran, atau caranya
berkontribusi pada lingkungan sekitar.
Mereka-mereka yang memilih jalan hidup punk tak selamanya
hidup di jalanan untuk mengamen atau menggelandang, seperti streotipe yang
sering ditempelkan pada mereka. Ada pula yang sibuk dengan pekerjaan dan
rutinitas kantoran.
Hanya saja, mereka enggan disebut sebagai bekas anak
punk. Nilai dan ideologi punk tetap dipraktikkan.
Misalnya saja Stafenus Hamonongan, seorang guru sekolah
dasar swasta di Jakarta Selatan, yang jadi anak punk sejak tahun 2000. Sejak
awal, Stef merasa punk “Gue banget”. Punk yang identik dengan perlawanan dan
pemberontakan dinilai sengat sesuai dengannya.
Sejak SMA, ia mulai berpenampilan ala punk seperti
bertato dan menindik telinga. Lulus SMA kegilaan Stef pada punk makin menggebu.
Ia juga sadar bahwa punk bukan cuma penampilan tapi pemikiran, atau caranya
berkontribusi pada lingkungan sekitar.
Stafenus
Hamonongan, seorang guru sekolah dasar swasta di Jakarta Selatan, yang jadi
anak punk sejak tahun 2000. Foto: Andika Putra
Stef tak ambil pusing. Ia memang tak pernah menyembunyikan keberadaan
tatonya. “Gua mengajar ilmu, bukan mengajarkan soal tato," kata Stef.
Sekolah tempatnya saat ini mengajar relatif lebih memaklumi. Selain
tato, rekannya sesama guru juga tahu bahwa dirinya adalah pemain band punk.
"Ke siswa, gua bilang lobang tindikan ini ada karena cidera. Kalau
gua bilang gua pakai anting dan gua jelasin punk apa, mereka gak akan mengerti.
Sampai saat ini orang tua murid gak ada yang protes karena gua tetap
megajar," kata Stef.
Stef melanjutkan, "Gua sisipkan ideologi punk ke siswa saat ngajar.
Seperti gak boleh sombong dan harus berbagi, ya sama rata sama rasa. Gua juga
selalu apresiasi karya mereka meski jelek, yang penting itu karya sendiri,
sesuai dengan konsep DIY."
Infografis:
Timothy Loen | Naskah: Vetriciawizach Simbolon
Kisah Stef juga terdapat pada Gofar Hilman, seorang penyiar Hard Rock FM
yang sudah punya nama. Selain sebagai penyiar, Gofar juga punya bisnis dengan
beberapa teman.
Dengan kehidupan yang segala yang dimilikinya saat ini, Gofar ternyata
pernah juga jadi anak punk jalanan. Mengamen dari satu bus kota ke bus kota
lain dan menggelandang di jalanan.
Punk seakan sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Gofar mengenal punk
sejak kelas lima sekolah dasar dan pada kelas enam dia sudah berlatih musik
punk. Masuk SMP, ia membentuk band punk.
“Rutin manggung ketika SMA dan dari situ gua melalui berbagai macam fase
pengetahuan soal punk. Pertama gue kira adalah sejenis musik, tapi ternyata itu
kultur,” kata Gofar.
Tak sempat kuliah karena alasan biaya, Gofar langsung total terlibat di
punk. Selain mengamen, ia juga berkelana dari satu cara musik ke acara musik
yang lain untuk menggelar barang dagangan.
Kaset punk, kaos band punk, ikat pinggang dan jaket punk dijualnya untuk
bisa memenuhi kebutuhan hidup.
Sempat bekerja di sebuah kantor, bahkan jadi pegawai negeri sipil, Gofar
memutuskan keluar dan membuka bisnis. Ia juga mulai siaran sejak 2012.
Dengan segala pencapaiannya saat ini, Gofar menegaskan, bukan berarti
dia bisa disebut sebagai mantan anak punk. Menurutnya punk tidak dinilai dari
fisik atau status sosial, tetapi pemikiran.
Gofar
Hilman, seorang penyiar radio dan pebisnis yang pernah menjadi anak punk
jalanan. Foto: Andika Putra
“Gue
masih pakai ideologi punk di kehidupan meski enggak semua,” katanya.
Ideologi anarkis selalu diterapkannya walau dirinya merasa belum pantas untuk bisa disebut sebagai anarkis. Ia juga selalu menerapkan konsep kesetaraan.
“Gue belajar banyak soal rendah hati, dan hal itu enggak akan pernah hilang,” katanya.
Selain itu, Gofar juga mengaku masih kerap menggelar acara bertema food not boms untuk mengampanyekan pada negara lebih penting menyediakan kebutuhan pokok rakyat ketimbang mempersenjatai militer.
Gofar berharap, punk tak dilhat sebelah mata saja. Jika melihat ada anak punk mengamen dengan cara memaksa atau mabuk di tempat umum, bukan berarti semua anak punk bertingkah sama.
Sumber: CNN Indonesia


























