Our social:

Latest Post

Sabtu, 23 Desember 2017

Laporan Mendalam: Pung Tak Pernah Mati



Layaknya virus, sub-kultur Punk dengan cepat mewabah ke berbagai negara. Kehadiran mereka yang semula dipandang miring menjadi terlalu besar untuk diabaikan. Semangat antikemapanan pun menggelora seiring dengan raungan distorsi gitar mereka dari atas panggung. Termasuk di Indonesia


 Kamis sore ke-392 di seberang Istana Negara, Jakarta Pusat, beberapa petani berkebaya menumbukkan lesung ke alu. Tumbukan itu membentuk irama. Mikail Israfil alias Mike, vokalis band Marjinal, segera mengambil pengeras suara dan mengatur musik yang dimainkan kawan-kawannya. Bobby Firman Adam, teman satu band Mike, ada juga di sana.

Keduanya merespons irama ketukan lesung para petani Rembang, Jawa Tengah, dengan menyanyikan Ibuku Ibumu Ibumi Kita Semua. Lagu karya Marjinal.

Nyanyian berlanjut hingga beberapa lagu. Band punk rock asal Jakarta Selatan itu mewarnai Aksi Kamisan menagih janji Presiden Joko Widodo untuk  menolak pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Kehidupan para petani dinilai terbelenggu dengan keberadaan pabrik semen yang dinilai merusak alam.

Di sana Mike dan Bobby tak sendiri. Beberapa komunitas punk ikut bersolidaritas saat puluhan petani menyemen kaki di depan Istana.

“Merasakan rasanya ditindas, merasakan penderitaan orang lain, minimal berbagi rasa, bersolidaritas.”

Di luar istana, solidaritas juga diwujudkan dengan cara lain. Beberapa band punk, skinhead, hardcore, merilis album kompilasi berjudul Kendeng Melawan. Kompilasi itu didedikasikan untuk perjuangan petani dan masyarakat yang dirugikan atas pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng.

Mike menganggap aksi di Istana itu tak lain upaya menjadi diri sendiri.

“Merasakan rasanya ditindas, merasakan penderitaan orang lain, minimal berbagi rasa, bersolidaritas,” ujarnya, ketika ditemui di komunitas Taring Babi, tempatnya biasa berkumpul.
 Bagi kebanyakan mereka yang menjalani hidup sebagai punk, musik memang bukan hanya soal ekspresi diri, tapi juga jadi senjata perlawanan dan kritik sosial pada sistem yang menurut mereka tak sesuai. Melalui lirik-liriknya, band punk mengkritisi pemerintah dan ketidakadilan di masyarakat. Juga membela mereka yang lemah.

"Dari awal memang teman-teman punk menggunakan media musik untuk menyampaikan pesan, menyampaikan ide, menjadikan proses belajar sama-sama tentang kondisi negeri," kata Bobby.

Infografis: Timothy Loen | Naskah: Vetriciawizach Simbolon
Bobby mengatakan, bagi Marjinal, semua hal di sekitar bisa menjadi inspirasi pembuatan lagu. Terutama ketika ada hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai punk. Misalnya masalah kesehatan, pendidikan, diskriminasi, hukum, ketidakadilan sosial, kekuasaan, dan kebobrokan sistem serta pemerintahan. 

Tema-tema seperti itu pula yang sering dijadikan Marjinal sebagai 'peluru' dalam berkarya. 

Contohnya lagu Hukum Rimba. Lagu itu merupakan kritik Marjinal terhadap karut-marut penegakkan hukum di Indonesia yang katanya semestinya jadi panglima.

Lagu Hukum Rimba berbicara soal noktah hitam peradilan di Indonesia. Bagaimana hukum bisa dibeli mereka-mereka yang punya kekuasaan dan uang.

"Lagu Hukum Rimba. Cerita tentang hukum yang bisa dibeli dan hukum bukan lagi menjadi satu pintu terakhir untuk menentukan keadilan atau siapa yang bersalah. Orang bersalah bisa membeli hukum agar lolos dari apa yang diperbuat," ujar Bobby.



Bobby 'Marjinal'. Foto: Hesti Rika

Musikus punk lain, Rama Aditya, ketika ditemui di kesempatan terpisah mengatakan, hampir semua band punk memang menyuarakan kritik dan perlawanan lewat lagu.

Gitaris band The Sabotage ini mengatakan, pemerintah banyak jadi objek kritik dan isu-isu terkini juga jadi perhatian khusus dalam bermusik 

"Sebagian ada yang mengkritik pemerintah, lalu ada isu-isu yang lagi hangat," kata pria yang kerap disapa Geboy ini.



Rama Aditya, gitaris band punk 'The Sabotage'. Foto:Andito Gilang Pratama






Suara kritis kaum punk membuat kelompok ini kerap dicap berpolitik melalui cara mereka sendiri. Anarkis atau anarkisme adalah teori politik yang bertujuan menciptakan suatu masyarakat yang di dalamnya individu bebas berkumpul bersama. Sederajat.  

Anarkisme melawan semua bentuk kendali hierarkis – baik oleh negara maupun kapitalis—karena dinilai merugikan individu dan individualitas mereka.

Punk dengan anarkis dinilai punya kaitan langsung karena band yang kerap jadi kiblat kaum punk, Sex Pistol, memberi karakter kuat tentang ideologi tersebut pada lagu “Anarchy in the U.K.” 


Banyak musisi punk mempelajari pesan dalam lagu yang dirilis 1976 itu.


Jon Savage dalam buku England’s Dreaming: Anarchy, Sex Pistols, Punk Rock, and Beyond (1992) menyebut punk adalah tentang pemuda, dengan pemberontakan dan kehidupan jalanan sebagai elemen penting, di samping individualitas yang kental.

Namun Craig O’Hara dalam buku Philosophy of Punk (1999) menyebut kesan individualitas itu lebih mengarah pada sikap independen lewat prinsip yang selama ini dipegang punk: do it yourself (DIY) atau kemandirian.

“Kami dalam komunitas punk bisa membuat pertunjukan sendiri, mengorganisir demonstrasi, merilis rekaman kami sendiri, menerbitkan buku dan zine, mengelola distribusi sendiri untuk hal-hal yang kita produksi, buka toko kaset sendiri, mendistribusikan literatur, mengampanyekan boikot, dan berpartisipasi aktif dalam aktivisme sosial-politik. Kami mampu melakukan ini semua, bukan mereka (pengusaha, pemerintah) dan kita bisa melakukannya dengan efektif. Apakah ada subkultur lain yang mempunyai kekuatan aksi dan filosofi independen seperti ini?”


Aksi band Marjinal di depan gedung KPK, Rabu, 17 Februari 2016. Foto: Andry Novelino

Seperti anarkisme, punk juga menolak hierarki yang terwadahi dalam suatu lembaga tertentu. Mike berpendapat, ketika individu punk sudah ideologis maka dia akan berbaur dengan masyarakat untuk memperjuangkan keadilan, bukan membentuk kelompok sendiri.

“Bicara punk itu bagaimana dia melakukan proses ‘bunuh diri kelas’ yang dengan sadar membawa diri tanpa mengatasnamakan kelompoknya, tapi sebagai insan yang melebur dalam sebuah perjuangan rakyat,” katanya.


Pria 42 tahun ini menyebut pengelompokan merupakan perbuatan sistem kekuasaan. Tujuannya memecah belah masyarakat agar tidak memiliki perasaan senasib dan kesamaan harapan. Sistem seperti ini, menurutnya, perlu dibongkar. 

Infografis: Timothy Loen | Naskah: Vetriciawizach Simbolon

Selama ini Marjinal kerap dilabeli sebagai band anarko punk. Band yang dirikan sejak 1996 itu pernah membuat lagu Anarki Bukan Barbar. 

Namun Mike menolak pelabelan itu.

Baginya, tidak penting identitas sebagai seorang punk, anarkis, atau anarko punk. Semangat yang dibawanya adalah katalisator yang mempertemukan setiap perjuangan kemanusiaan.

"Punk adalah katalisator. Apa yang dirasakan lalu dikontribusikan dalam barisan rakyat untuk menjemput keadilan. Punk akan ada di situ," ujarnya.

Mike mengatakan, semangat besar komunitas punk adalah memanusiakan manusia dan menjadi bagian dari gerak perubahan. Menurutnya, setiap orang adalah pemilik atas dirinya sendiri dengan segala pertanggungjawabannya.

Ia menambahkan, musuh terbesar punk adalah dirinya sendiri. “Ada idiom di punk, be your self. Maka musuh terbesar untuk menjadi diri sendiri adalah dirinya, ketika dirinya ingin menjadi orang lain,” kata Mike.
Bagi Mike, ketika individunya berbaur, punk akan abadi. Tak mati oleh kekuatan apapun. 

“Walaupun tubuhnya dipenjarakan, tapi jiwa dan pikirannya tetap adalah dirinya. Itu yang disebut dengan punk’s not dead,” tegasnya.


Lewat tengah malam, beberapa pemuda berkumpul di emperan sebuah kafe bilangan Bulungan, Jakarta Selatan. Botol berisi anggur ginseng digilir pada setiap orang yang duduk melingkar. Satu per satu mereka menenggak minuman beralkohol yang dibeli dari lapak jamu tradisional itu. 

"Sekadar menghangatkan badan," kata Leonardo Ichwan Redion Mamahit, biasa dipanggil Onie Fukkguy sambil menyodorkan botol ke kawannya. Suhu udara memang semakin dingin memasuki dini hari.

Onie mengambil ponsel dan memutar rekaman video konser Ramones, band punk rock legendaris asal Amerika Serikat. Onie tak sabar bertemu Marky Ramone, mantan penggebuk drum Ramones.

Dia menang undian dan mendapat kesempatan berjumpa Marky sebelum menggelar konser di Jakarta pada 5 Desember 2017. Marky adalah satu-satunya personel Ramones yang masih hidup. 


Onie Fukkguy. Foto: Andito Gilang Pratama

Tak hanya mendengarkan Ramones, Onie juga berpenampilan layaknya seorang punk. Rambutnya tercukur mohawk, gondrong hanya di bagian tengah kepala. Begitu pula model potongan dua kawannya, dihias pirang di sejumput rambut.

Sekujur lengan Onie nyaris dipenuhi tato berlogo band punk. Jaket dipenuhi emblem. Celana hitam ketat menyatu dengan sepatu warior. Biasanya sepatu bot tak lepas dari kaki ketika Onie pentas bersama grup musiknya: The Sabotage. Band yang digawangi Onie adalah salah satu band punk lawas di Jakarta.


Perbincangan malam itu sehangat minuman yang ditenggak bergiliran. Obrolan tak jauh seputar punk, dari mulai musiknya, komunitas, media massa, hingga urusan politik, juga soal anarki.

Onie menilai punk dan anarki merupakan dua hal berbeda, tapi memiliki semangat sama, yaitu kebebasan. Pria lajang 39 tahun ini menjelaskan, anarki membebaskan setiap orang mengatur hidupnya sendiri di bawah kontrol dan tanggung jawab masing-masing. Punk menjadi saluran ekspresi kebebasan melalui musik, penampilan, dan pergerakan.

“Anarki berarti tanpa ada yang memerintah. Enggak ada yang berhak mengatur diri gua, kecuali diri gua sendiri yang mengerti batasannya,” kata pria yang pernah kuliah di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) itu.

Namun kebebasan itu sendiri, menurut Onie, masih tersandera sistem yang dibuat negara untuk mengatur kehidupan politik, hukum, sosial, ekonomi masyarakat. Dia menuangkan kekecewaan terhadap sistem melalui musik.

Salah satu lagu berjudul "No Peace Today, No Life Tomorrow" yang dia ciptakan bersama The Sabotage bercerita soal perang terhadap ketidakadilan.

"Indonesia memang sudah enggak ada perang (fisik), tapi perang di sini lebih kepada injustice (ketidakadilan). Teman kami jualan tapi enggak punya lapak karena sewa mahal, akhirnya turun ke jalan jualan sembarangan, barangnya diambil petugas. Itu sistem, musuh kita," jelasnya.

Jelang pagi itu, Onie membatasi diri untuk tidak lagi meneguk anggur meski isi botol belum habis. Dia mengontrol diri agar tidak berlebihan mengonsumsi alkohol. Berkaca dari kawannya yang kini berhenti karena alasan kesehatan.



Sementara Sidik alias Joy pendiri komunitas punk Brengsex City mengakui, gerakan politik komunitas punk bakal ada. Yang dilakukan saat ini memang belum pada tahap turun ke jalan.

“Kami mulai di lingkungan sekitar dulu, bicara riil soal kerja-kerja nyata. Bukan enggak perlu turun ke jalan, suatu saat itu, pasti kami tetap berontak. Tapi perbaiki dulu ekonomi,” ujar Joy.

Bersama sejumlah rekannya, Joy saat ini mengembangkan ekonomi komunitas punk di kawasan Kemayoran Jakarta Pusat.

Studio rekaman, sablon kaos, desain grafis, fotografi, hingga kursus bahasa Inggris mereka buka. Aktivitas itu perlahan membangun kepercayaan masyarakat terhadap komunitas punk yang hidup di tengah pemukiman padat penduduk.


Dia mengatakan, setiap pemberontakan harus ada solusi, bukan hanya sekadar protes. Joy menilai perlu memperbaiki sikap setiap individu sebelum melangkah pada hal-hal yang lebih jauh.

Infografis: Timothy Loen | Naskah: Vetriciawizach Simbolon



Etika mengerjakan serba sendiri atau Do it your self (DIY) dianggap sebagai keniscayaan bagi komunitas punk. Mereka umumnya memilih memproduksi segala hal sendiri dan mendistribusikannya melalui jejaring mereka sebagai bentuk kebebasan dan perlawanan. 

Salah satu etika DIY diterapkan di komunitas punk adalah soal rekaman musik dan distribusi hasilnya. Komunitas Brengsek City membuka  ‘Brengsex City Home Record’ atau BCHR.

Joy bersama anggota band The Root membuka studio ini.

“Dari pada rekaman di luar mending kita sediakan sendiri, ikut pertunjukan, dan didistribusikan sendiri,” ujar Joy.

Sebagian ruang di rumahnya pun diubah menjadi tempat rekaman. Meski tak terlalu luas, tiap hari ada saja band punk yang datang untuk sekadar berlatih. Nantinya, kata Joy, label rekaman ini akan dibuka bagi band punk lain di luar komunitas.

Ia tahu betul rumitnya bertemu operator label rekaman di luar sana. Belum lagi keterbatasan untuk mengatur waktu. Alasan itu yang membuat Joy tak ingin band punk lainnya merasakan kesulitan seperti dirinya. 

“Kami ingin juga kan punya karya, tapi jangan dipersulit ruang dan waktu,” ucapnya. 

Personel band punk Shaolin Temple yang juga penggagas BCHR, Muhammad Haris mengatakan, usaha yang dirintis komunitas mereka umumnya berawal dari lingkaran pertemanan. Menurut pria yang akrab disapa Proph ini, ruang pertemanan yang menjadi sebuah komunitas ini kemudian menjadi peluang bisnis untuk menghasilkan keuntungan. 

“Justru yang mengajarkan kami bisa, ya dari komunitas. Semua dari pertemanan, awalnya enggak kenal, ketemu di acara ngobrol bareng ternyata nyambung. Mulai usaha,” katanya. 

Usaha label rekaman itu termasuk salah satu yang ia rintis bersama Joy. Meski memproduksi sendiri, Proph tak lantas anti dengan label besar. Sebab tak menutup kemungkinan bandnya akan bekerja sama dengan mereka, asalkan lewat sejumlah kesepakatan yang disetujui kedua pihak. 

Ia melihat kecenderungan label besar selama ini hanya berorientasi keuntungan. Hal itu yang dikhawatirkan akan berdampak pada hubungan pertemanan yang sudah dijalin oleh teman sesama punk. 

Menurut Proph, kunci untuk menjalankan usaha dari komunitas punk adalah ikhlas dan kepercayaan. Selama hal itu dijaga, ia yakin tidak akan ada konflik yang berarti. 

Effi Juanita, vokalis band punk Punktat yang membuka bisnis toko aksesori punk. Foto: Prima Gumilang

Sementara Effi Juanita, vokalis band punk Punktat, punya alasan lain membuka bisnis toko aksesori khusus punk  yakni karena kebutuhan sehari-hari. Menurutnya, sebagai orang tua tunggal, ia harus bisa memastikan kebutuhan anaknya bisa terpenuhi.

"Pertama bisnis. Waktu anak kelas 1 SD, kebutuhan meningkat," kata Effi. 

Effi mengaku, bisnis lapaknya bisa dibilang hanya modal dengkul. Saat itu teman yang punya usaha sablon mencetak nama dan logo band, Punktat. Effi mendapat royalti dari sablon tersebut berupa kaos yang sudah disablon. 

Karena terdesak kebutuhan ekonomi, kaos-kaos tersebut dijualnya setelah mendapat izin dari personel Punktat yang lain.

Kini, selain kaos, Effi juga menjual jaket dan celana khas punk yang penuh dengan embelem. Di lapaknya di Effi juga menjual sabuk, gelang, sepatu bot dan aksesoris lain. Ada yang dibelinya dari industri rumahan, ada juga yang dibuatnya sendiri.

"Ada juga orang bikin, bawa jaket sendiri, atau nyicil beli spikenya dulu. Tergantung budget-nya orang yang mau order," kata perempuan 45 tahun ini.



Mereka-mereka yang memilih jalan hidup punk tak selamanya hidup di jalanan untuk mengamen atau menggelandang, seperti streotipe yang sering ditempelkan pada mereka. Ada pula yang sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas kantoran. 

Hanya saja, mereka enggan disebut sebagai bekas anak punk. Nilai dan ideologi punk tetap dipraktikkan.

Misalnya saja Stafenus Hamonongan, seorang guru sekolah dasar swasta di Jakarta Selatan, yang jadi anak punk sejak tahun 2000. Sejak awal, Stef merasa punk “Gue banget”. Punk yang identik dengan perlawanan dan pemberontakan dinilai sengat sesuai dengannya.

Sejak SMA, ia mulai berpenampilan ala punk seperti bertato dan menindik telinga. Lulus SMA kegilaan Stef pada punk makin menggebu. Ia juga sadar bahwa punk bukan cuma penampilan tapi pemikiran, atau caranya berkontribusi pada lingkungan sekitar.

Mereka-mereka yang memilih jalan hidup punk tak selamanya hidup di jalanan untuk mengamen atau menggelandang, seperti streotipe yang sering ditempelkan pada mereka. Ada pula yang sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas kantoran. 

Hanya saja, mereka enggan disebut sebagai bekas anak punk. Nilai dan ideologi punk tetap dipraktikkan.

Misalnya saja Stafenus Hamonongan, seorang guru sekolah dasar swasta di Jakarta Selatan, yang jadi anak punk sejak tahun 2000. Sejak awal, Stef merasa punk “Gue banget”. Punk yang identik dengan perlawanan dan pemberontakan dinilai sengat sesuai dengannya.

Sejak SMA, ia mulai berpenampilan ala punk seperti bertato dan menindik telinga. Lulus SMA kegilaan Stef pada punk makin menggebu. Ia juga sadar bahwa punk bukan cuma penampilan tapi pemikiran, atau caranya berkontribusi pada lingkungan sekitar.

Stafenus Hamonongan, seorang guru sekolah dasar swasta di Jakarta Selatan, yang jadi anak punk sejak tahun 2000. Foto: Andika Putra

Stef tak ambil pusing. Ia memang tak pernah menyembunyikan keberadaan tatonya. “Gua mengajar ilmu, bukan mengajarkan soal tato," kata Stef.

Sekolah tempatnya saat ini mengajar relatif lebih memaklumi. Selain tato, rekannya sesama guru juga tahu bahwa dirinya adalah pemain band punk.

"Ke siswa, gua bilang lobang tindikan ini ada karena cidera. Kalau gua bilang gua pakai anting dan gua jelasin punk apa, mereka gak akan mengerti. Sampai saat ini orang tua murid gak ada yang protes karena gua tetap megajar," kata Stef.

Stef melanjutkan, "Gua sisipkan ideologi punk ke siswa saat ngajar. Seperti gak boleh sombong dan harus berbagi, ya sama rata sama rasa. Gua juga selalu apresiasi karya mereka meski jelek, yang penting itu karya sendiri, sesuai dengan konsep DIY."

Infografis: Timothy Loen | Naskah: Vetriciawizach Simbolon

Kisah Stef juga terdapat pada Gofar Hilman, seorang penyiar Hard Rock FM yang sudah punya nama. Selain sebagai penyiar, Gofar juga punya bisnis dengan beberapa teman.

Dengan kehidupan yang segala yang dimilikinya saat ini, Gofar ternyata pernah juga jadi anak punk jalanan. Mengamen dari satu bus kota ke bus kota lain dan menggelandang di jalanan.

Punk seakan sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Gofar mengenal punk sejak kelas lima sekolah dasar dan pada kelas enam dia sudah berlatih musik punk. Masuk SMP, ia membentuk band punk.

“Rutin manggung ketika SMA dan dari situ gua melalui berbagai macam fase pengetahuan soal punk. Pertama gue kira adalah sejenis musik, tapi ternyata itu kultur,” kata Gofar.

Tak sempat kuliah karena alasan biaya, Gofar langsung total terlibat di punk. Selain mengamen, ia juga berkelana dari satu cara musik ke acara musik yang lain untuk menggelar barang dagangan.

Kaset punk, kaos band punk, ikat pinggang dan jaket punk dijualnya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup.

Sempat bekerja di sebuah kantor, bahkan jadi pegawai negeri sipil, Gofar memutuskan keluar dan membuka bisnis. Ia juga mulai siaran sejak 2012.

Dengan segala pencapaiannya saat ini, Gofar menegaskan, bukan berarti dia bisa disebut sebagai mantan anak punk. Menurutnya punk tidak dinilai dari fisik atau status sosial, tetapi pemikiran.

Gofar Hilman, seorang penyiar radio dan pebisnis yang pernah menjadi anak punk jalanan. Foto: Andika Putra

“Gue masih pakai ideologi punk di kehidupan meski enggak semua,” katanya.

Ideologi anarkis selalu diterapkannya walau dirinya merasa belum pantas untuk bisa disebut sebagai anarkis. Ia juga selalu menerapkan konsep kesetaraan. 
“Gue belajar banyak soal rendah hati, dan hal itu enggak akan pernah hilang,” katanya.
Selain itu, Gofar juga mengaku masih kerap menggelar acara bertema food not boms untuk mengampanyekan pada negara lebih penting menyediakan kebutuhan pokok rakyat ketimbang mempersenjatai militer.
Gofar berharap, punk tak dilhat sebelah mata saja. Jika melihat ada anak punk mengamen dengan cara memaksa atau mabuk di tempat umum, bukan berarti semua anak punk bertingkah sama.
Sumber: CNN Indonesia

Selasa, 19 Desember 2017

Punk Rapatkan Barisan dari Bawah Tanah

Prima Gumilang*, CNN Indonesia | Selasa, 19/12/2017 09:09 WIB


Seorang pemuda punk menonton acara konser di Rossi Musik, Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
“Kita sama-sama Islam. Kita sama-sama beragama. Haruskah kita saling bunuh nanti?” teriak Baskoro dari atas panggung. Kepalan tangannya diacungkan ke udara.
Bising gitar langsung menyambar keluar dari pengeras suara, disambut dentuman bass dan ketukan drum bertempo cepat. Vokalis Satellite itu mengawali musik dengan orasi politik sebelum memainkan Haruskah Kita, lagu yang dirilis pada 2001.

Kondisi di bawah panggung berubah chaos. Para pemuda saling sikut, tendang, dan menggoyang badan tak keruan. Sebagian berebut mik untuk ikut bernyanyi. Lainnya melompat dari atas panggung ke tengah kerumunan orang yang sedang pogo. 


Di Rossi Musik, Jakarta Selatan, malam itu punk berkumpul.

Mereka yang hadir banyak dicukur mohawk. Sejumput rambut penuh warna berdiri tegak di tengah kepala. Jaket kulit dihiasi emblem, pin dan spike. Celana belel ketat berpadu dengan sepatu bot kelas pekerja. Tak sedikit dari mereka sepulang beraktivitas langsung ke tempat acara.

Udara makin pengap saat ruang pertunjukan mulai dipadati penonton. Maklum, arena tertutup itu tak lebih besar dari lapangan futsal. Rossi Musik ibarat CBGB di New York AS, memberi ruang bagi punk dan musik underground untuk tampil, di tengah sulitnya mencari tempat konser di ibu kota.

Tembok gedung nyaris dipenuhi grafiti. Beberapa poster yang ditempel menyuarakan protes “Tolak Pabrik Semen”. Komunitas punk sendiri pernah menggelar acara Save Kendeng Movement untuk menolak pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah.

Di sepanjang lorong, sejumlah lapak menjual berbagai atribut punk, selain makanan ringan dan minuman keras hasil fermentasi racikan sendiri.

Salah satu kaus band Septictank di lapak Movement Record disablon dengan desain “Free Palestine, Save Al-Aqsa, End the Occupation”. Pesan yang disampaikan sejalan dengan gelombang solidaritas yang sedang diserukan dunia untuk Palestina.

Musik masih berlanjut hingga jelang tengah malam. Sexy Pig, Septictank, Satellite, The End, Brigade of Bridge, Lemots, dan Submission adalah band lokal yang tampil pada Jumat (8/12) malam itu. Dua band dari negara lain juga ikut manggung, yaitu Dism (Malaysia) dan Lower Class Brats (AS). Lirik yang mereka ciptakan tak lepas dari seruan kebebasan dan perlawanan. 

Pascareformasi, Punk jarang menggelar demonstrasi karena khawatir ditunggangi kepentingan lain.
Pascareformasi, Punk jarang menggelar demonstrasi karena khawatir ditunggangi kepentingan lain.  (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Suatu waktu, lagu yang biasanya hanya didengar melalui kaset dan dinyanyikan di konser musik, beralih ke jalanan. Menggelorakan aksi perlawanan.

"When the punks... When the punks... When the punks go marching in... I wanna be in the number... When the punks go marching in..."

Lagu milik Abrasive Wheels itu dinyanyikan keras-keras oleh peserta aksi sepanjang perjalanan dari kawasan Bulungan, Jakarta Selatan ke Markas Besar Polri. Lagu itu seperti panggilan bagi setiap punk untuk bergabung dalam satu barisan. 

Senin, 19 Desember 2011, komunitas punk di Jakarta menggelar aksi protes turun ke jalan untuk menyatakan solidaritas kepada puluhan punk di Aceh yang ditangkap dan ditahan aparat kepolisian tanpa proses pengadilan. Peserta aksi mayoritas mengenakan atribut punk. 

Saat itu saya juga berada dalam satu barisan demonstrasi tersebut.

Kami bergerak atas kesadaran individu masing-masing. Tak ada yang mengorganisasi demonstrasi, tak ada lembaga yang memayungi. Bendera hitam berlambang huruf A dalam lingkaran yang menjadi simbol anarkisme, berkibar di tengah massa.

Saat polisi bertanya siapa pemimpin yang bertanggung jawab atas aksi tersebut, mereka menjawab, “Saya bertanggung jawab atas diri saya sendiri.” 

Para demonstran membawa spanduk dan poster yang kadang membingungkan bagi pembacanya. Salah satu spanduk besar berbunyi, “Hari Polisi Baik”. Spanduk lainnya bertuliskan, "Jadikan Kami Kambing Hitam!" 

Kebanyakan poster yang dibawa berisi pernyataan sikap, seperti "Punks Not Crime", ada juga yang menulis "Kami Bangga Menjadi Sampah Masyarakat." Mereka yang berada di barisan punk tetap bangga menjadi dirinya meski dipandang sebelah mata.

Punk Rapatkan Barisan dari Bawah Tanah
Aksi solidaritas untuk punk Aceh di depan Mabes Polri, Jakarta. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Demonstrasi itu merupakan perlawanan yang seolah ingin meledek aparat penegak hukum di Indonesia. Mereka tak ingin merengek pada institusi negara. Sebab selama ini, kinerja Polri dianggap tidak bisa dipercaya lagi dalam menegakkan hukum. Kasus penangkapan punk di Aceh makin memperkuat hal itu.

Di tengah aksi, seorang orator menyampaikan bahwa demonstrasi bukan satu-satunya cara yang dipakai punk untuk menunjukkan perlawanan. Menuntut kepada institusi negara agar menjalankan tanggung jawabnya sama saja mengakui keberadaan mereka yang tidak kredibel.

Pascareformasi, aksi yang digagas komunitas punk bisa terbilang jarang, barangkali masih bisa dihitung dengan jari. Di era sebelumnya, punk kerap dimanfaatkan kelompok tertentu untuk mobilisasi massa. Kondisi ini melahirkan kekecewaan sebagian punk hingga akhirnya mereka menjauhkan diri dari kegiatan politik.

Meski demikian, masih ada kelompok punk yang keluar dari jerat politisasi para politikus. Kelompok ini lebih berhati-hati sebelum bergabung dengan sebuah gerakan. Mereka lebih memilih terlibat dalam aksi-aksi solidaritas perjuangan rakyat tertindas.

Sementara ada pula kelompok punk yang membangun perlawanan dengan caranya sendiri. Kelompok ini enggan tampil di hadapan media. Gerakan mereka dibangun dari bawah tanah dengan mempertahankan prinsip do it yourself (DIY).

Konser musik tetap digelar tanpa campur tangan sponsor perusahaan besar. Mereka masih menciptakan lagu dengan lirik yang menggugah kesadaran sosial pendengarnya. Kaus dan emblem disablon dengan menyuarakan pesan protes. Pemikiran kritis yang sebelumnya dituangkan melalui zine, kini diedarkan di media sosial.

Punk Rapatkan Barisan dari Bawah Tanah
Zine merupakan media alternatif yang dibuat di komunitas punk untuk menyebarkan gagasan. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Di beberapa wilayah, punk terlibat aktif dalam aksi sosial di masyarakat. Mereka memperkuat basis dari bawah. Di Kemayoran, Jakarta Pusat, komunitas punk Brengsex City, misalnya. Berbaur dengan masyarakat adalah cara yang dipakai untuk membangun perlawanan. 

Mereka memilih memberdayakan kemampuan hidup individu dan membangun pola pikir maju di tengah masyarakat. Gerakannya dibangun dengan menyalurkan bakat individu melalui usaha sablon, desain grafis, fotografi, membuat rumah produksi rekaman, hingga memberikan kursus Bahasa Inggris.
“Kami mulai di lingkungan sekitar dulu, bicara riil soal kerja-kerja nyata. Bukan enggak perlu turun ke jalan, suatu saat itu pasti, kita tetap berontak. Tapi perbaiki dulu ekonomi,” kata Joy, vokalis The Roots yang ikut menghidupi Brengsex City.
Punk tetap bertahan dengan jalan mereka masing-masing. Meskipun pro dan kontra selalu ada di tengah komunitas, tapi musik yang mereka dengar tetap satu: Punk.  

Sulit sepertinya bagi individu yang pernah hidup di komunitas punk meninggalkan semangat muda yang bergelora itu. 

Bukan tidak mungkin, ruh perlawanan yang telah diembuskan puluhan tahun lalu akan keluar dari gerakan bawah tanah yang mereka bangun hingga kini. Menyuarakan kebebasan yang bertanggung jawab. Suatu saat, lagu yang didengar pun akan menggelorakan aksi perlawanan. 

Entah kapan, saya tetap menunggu.



(vws)

* Prima Gumilang, Pemuda peminat musik punk ini pernah menyelesaikan studi Jurusan Sosiologi. Mulai bergelut sebagai jurnalis pada 2011, namun kini bertugas sebagai writer di kanal Nasional-Politik, CNNIndonesia.com.

Sumber: CNN Indonesia 

Senin, 18 Desember 2017

Effi Punktat: Indonesia Cocok untuk Punk

Prima Gumilang , CNN Indonesia | Senin, 18/12/2017 19:23 WIB


Effi Punktat menceritakan awal kemunculan punk di Indonesia. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Jakarta - Perempuan berambut pirang duduk di pinggir jalan, ditemani sebotol minuman. Tubuhnya yang tambun dibalut jaket kulit ala Ramones. Celana ketat belel yang dipakai berpadu dengan sepatu bot bermotif kulit macan.

Effi Yuanita, perempuan itu, baru saja menutup lapak. Dia menjual berbagai aksesori seperti kaus, jaket, emblem, saat acara musik punk digelar di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Minggu (19/11). Beberapa orang kadang menghampiri Effi sekadar untuk foto bersama.

Effi cukup dikenal di komunitas Punk Jakarta. Dia adalah vokalis band perempuan punk pertama di Indonesia, Punktat. Selain Punktat, Effi juga menggawangi enam band punk lainnya.

Namun malam itu, Effi tidak pentas. Lulusan Universitas Trisakti itu hanya membuka lapak bersama sang suami.

Di dalam gedung, dentuman musik bernada cepat masih memekakkan telinga. Para penonton lantang bernyanyi mengikuti irama. Beberapa pemuda dengan rambut berdiri tegak, hanyut dalam kekacauan tarian pogo, saling membenturkan diri satu sama lain.

Hingga hari berganti, jalanan di sekitar lokasi acara itu masih ramai lalu lalang para pemuda punk. Sebagian berkumpul membentuk lingkaran-lingkaran kecil, ada pula yang tak sadarkan diri tidur di emperan toko.

Punk di Indonesia dipercaya sebagai komunitas terbesar di dunia saat ini. Sistem negara yang memiskinkan rakyatnya dinilai mendorong pertumbuhan komunitas punk di Indonesia.

Di saat sejumlah personel band menolak kami wawancarai, Effi justru menerimanya.
“Ini ada wartawan CNN Indonesia mau wawancara gue, gimana nih?” tanya Effi mengeraskan suaranya di hadapan sejumlah kawan yang berkumpul membentuk lingkaran. Namun cetusan itu sepertinya hanya basa-basi.

 Sebab, sejumlah individu maupun komunitas punk ada yang menolak diliput media arus utama.
Effi Punktat: Indonesia Cocok untuk Punk
 (EMBARGO)
Effi Punktat usai menutup lapak di sebuah acara musik punk, Dukuh Atas, Jakarta. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Malam itu, Effi memulai perbincangan seputar perkembangan komunitas punk di Jakarta beserta dinamikanya. Tak selesai malam itu, wawancara berlanjut di rumah perempuan 44 tahun tersebut. 

Banyak hal kami bahas. Mulai dari generasi awal punk di Indonesia yang dibesarkan kelas menangah atas, hingga punk masa kini yang kerap “diboncengi” anak jalanan sebagai bagiannya.

Berikut petikan wawancara Prima Gumilang dari CNNIndonesia.com dengan Effi Yuanita yang lebih dikenal dengan Effi Punktat.

Bisa ceritakan perkenalan Anda dengan punk?
Gue dulu sering pulang pergi ke Jerman. Dari situ gue kenal punk. Ada nazi punk yang rasis, ada punk yang universal. Gue balik (ke Indonesia) dengan style punk yang gue tahu dari luar. Gue inget SMA kelas 1 masih gabung sama bawain musik thrash metal. Dasar belajarnya di situ.
 
Kenapa akhirnya tertarik dengan punk?
Karena jiwa seni, musik ya. Gue menjiwai musiknya, bisa bikin lagu-lagu di jalur ini karena menguasai banget. Waktu itu gue bawain (lagu) The Exploited, Sex Pistols, Ramones, dan Sham 69.
 
Selain lewat musik, bagaimana Anda mencari informasi tentang punk?
 
Zine, itu medianya. Makanya kalau sekarang ada punk antimedia, menurut gue itu enggak masuk akal. Awal kita dapat informasi kok malah dibenci. Punk dilarang masuk tivi. Seharusnya dirangkul, jangan dimusuhi, kayak Marjinal. Punk pecah karena perbedaan itu. Setahu gue yang antimedia itu grindcore, bukan punk. Sex Pistols, Ramones itu besar karena media.
 
Bagaimana respons orang tua saat Anda berpenampilan punk?

 
Orang tua gue santai, enggak melarang soal gaya, yang penting gue bertanggung jawab di pendidikan. Kagetnya waktu gue bikin tato, zaman itu masih tabu. Zaman sekarang, buset tato di muka. Gue masih ada batasannya, kita masih punya agama. Kalau kita dipocong, muka ditato, malaikat masih ngenali enggak kalau kita mati?

Effi Punktat: Indonesia Cocok untuk Punk
 (EMBARGO)
Effi mengatakan, punk pada mulanya hanya diikuti oleh para pemuda dari kelas menengah. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Kapan mulai memainkan musik punk?
Gue punya band SMA namanya Punktat, tahun 1990. Vokalisnya dulu anak duta besar, sering ke luar negeri jadi tahu apa itu punk. Tapi gue juga cari ruang lain biar enggak main di sekolahan terus. Ada pub, Black Hole namanya. Musiknya masih campur. Ternyata ada punk di sana bawain (lagu) Sex Pistols, Ramones. Itulah punk masih sekelompok kecil. Waktu di Black Hole itu belum ada yang bawa lagu sendiri.

Saat itu apa yang membedakan punk di Indonesia dan di negara lain?
Yang gue tahu punk di Indonesia waktu itu cuma senang-senang, main di suatu pub, minum, bawain lagu orang. Berawal dari pub itu, kita saling kenal, ngongkrong bareng. Namanya Young Offender sebagai sebuah komunitas di Jalan Slamet Riyadi. Kumpulnya di depan rumah, kompleknya ABRI. Awalnya punk (Indonesia) ini anak kelas menengah ke atas semua. â€¨â€¨

Seperti apa suasana di Young Offender itu?
Itu rumahnya Ondy, bandnya Submission. Bapaknya dulu jenderal. Jadi anak-anak yang nongkrong di rumah dia bebas. Itulah komunitas yang gue kenal. Walaupun anak tentara, dia tetap berontak dengan caranya. 
 
Anda melihat perubahan di komunitas punk ditandai dinamika seperti apa?
Bergeraknya punk di Indonesia sejak band punk bawain lagu sendiri sekitar tahun 1995. Ada Out of Control, Error Crew. Mereka berkreasi sendiri. Mulailah karya punk Indonesia dari situ, termasuk Anti Squad, skinheadnya. Punktat enggak mau kalah, gue bikin lagu sendiri.

Apa yang Anda harapkan saat memproduksi lagu sendiri?
Kalau motivasi gue cuma hobi, ekspresi jiwa seni. Karena gue senang di punk, benar-benar mendalami. Lagu gue banyak banget kalau dikumpulin. Gue hobi dan menjiwai.

Punk mulai memahami ideologinya sejak kapan?
Sejak anak-anak (punk) mulai bawain lagu sendiri, di situlah timbul ideologi. Sebelumnya punk enggak ideologis, cuma buat seneng-seneng, having fun aja. Sejak bikin lagu sendiri, mulai menunjukkan identitas inilah punk Indonesia. Mereka punya caranya sendiri.

Bagaimana situasi Orde Baru mempengaruhi punk saat itu?
Orde baru, zaman Soeharto, itu zaman revolusi punk. Banyak problem anarko, putau juga. Jadi ada pengaruh antara pemikiran punk, skinhead, pemakai, dan bukan pemakai. Bersamaan dengan konflik negara, juga konflik di punk. 

(Effi tinggal di rumah petak kawasan Kebayoran, Jakarta Barat. Berbagai atribut punk dipajang di ruang tamu. Malam saat kami wawancarai, dia tengah sibuk memasarkan barang dagangan di media sosial. Usai lulus kuliah di Fakultas Hukum, dia sempat bekerja di kantor pajak dan perusahaan asuransi. Kini dia memilih menjadi wirausahawan dengan prinsip yang selama ini dia kenal di komunitas punk: Do It Yourself.)
 
Effi Punktat: Indonesia Cocok untuk Punk
 (EMBARGO)
Effi bersama beberapa para pemuda yang ingin membeli aksesori punk di rumahnya. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Anda memahami do it yourself (DIY) seperti apa? 
Tidak bekerja dengan orang, produksi dan usaha sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Ya, bekerja sebagai punk. Tapi jalan hidup orang memang berbeda. Kebetulan gue punya bakat berdagang.
 
Anda juga pernah bekerja sebagai profesional. Apa yang Anda dapatkan dengan pilihan kerja sekarang? 
Beda banget ya, namanya kerja di bawah kaki orang, kita enggak bisa bebas. Justru karena DIY ini gue bisa kerja terserah gue. Kita bisa menikmati kebebasan, tapi ya bebas bertanggung jawab. Ya kalau orang malas, tidur seharian ya enggak maju.
 
Ada idiom, punk itu antikemapanan. Menurut Anda?

Punk itu justru harus mapan, bukan malah antikemapanan. Berproduksi, membuka lapangan kerja. Kalau soal antikemapanan dalam konteks pola pikir, itu oke.
 
Apa tanggapan Anda bahwa punk harus berkarya, bukan hanya sekadar gaya?
Itu anak punk mana yang bikin slogan “berkarya, bukan bergaya”? Punk di mana-mana nomor satu itu gaya. Karya itu tergantung bakat. Jangan ikut ideologi orang yang salah. Punk itu harus bergaya.

Bagaimana Anda menilai anak jalanan (anjal) yang mengaku sebagai punk? 
Anjal yang seperti itu baru belajar, pengen tahu punk, jangan dimusuhi. Seharusnya dirangkul. Berawal dari norak, nanti juga dia tahu punk itu apa. Mungkin ada yang resek waktu ngamen, itu karena pengaruh narkoba, obat. Dibilangin baik-baik aja. Memang kadang yang bikin jelek punk itu ada yang resek di jalan.
 
Apa yang membuat punk di Indonesia bisa bertahan? 
Pengaruh teknologi dan media yang semakin canggih. Asal tahu saja, punk di Indonesia sekarang menjadi komunitas punk terbesar di dunia. Band punk luar negeri akhirnya lebih senang main di sini. Mereka yang pernah main di sini mengakui, di Indonesia ini punk di mana-mana ada. 
 
Apa yang membuat punk di Indonesia berkembang dan menjadi yang terbesar? 
Pertama, karena Indonesia penduduknya banyak. Kedua, kelas menenegah ke bawahnya juga banyak. Tingkat korupsi tinggi. Penyebaran narkoba juga tinggi. Komplikasinya memang cocok untuk slogan yang disuarakan punk. Ideologi punk itu paling cocok karena ketidakpuasan terhadap pemerintah ada di mana-mana. Tapi pemberontakan itu tidak bergerak, bisanya lewat lirik lagu, pemikiran, gaya. Paling cocok itu punk untuk generasi muda. Kompleksitas masalah di Indonesia itu membuat punk berkembang biak, di mana saja ada. (pmg/sur) 

Sumber: CNN Indonesia